flatnews

Gara-gara Bentrok Dengan Malaysia, Pangkalan Jet Tempur Inggris di Singapura Sempat Akan di Bom TNI AU

Seorang karyawati kedai kopi di food court National University Hospital (NUH), Singapura, dipecat setelah ketahuan mencuci sepatunya di temp...



Seorang karyawati kedai kopi di food court National University Hospital (NUH), Singapura, dipecat setelah ketahuan mencuci sepatunya di tempat cuci piring kedai tersebut.

Dilansir uniqpost.com Kopitiam, tempat pegawai tersebut bekerja, meminta maaf kepada pelanggan melalui sebuah postingan Facebook, Selasa (23/6/2015).

“Dengan segala hormat terkait insiden yang terjadi di gerai kami di food court NUH, kami ingin meminta maaf atas ketidaknyamanan tersebut. Percayalah bahwa kami menangani masalah ini dengan serius,” bunyi postingan tersebut.

Aksi pegawai tersebut saat mencuci sepatu direkam dengan kamera oleh salah seorang pelanggan. Video itu kemudian diunggah ke Facebook oleh pengguna bernama Queenie Here.

“Karyawan tersebut sudah dipecat dan kami akan melakukan investigasi mendalam terhadap masalah ini,” tulisnya.



Tahun 1965, Inggris membangun pangkalan utama di Singapura. Pangkalan Udara Militer Tengah Air Force Base menjadi markas jet tempur Inggris.



Saat itu hubungan Indonesia dan Malaysia sedang memburuk. Malaysia meminta bantuan Inggris, Australia dan Selandia Baru. Bantuan langsung datang. Pesawat jet, kapal perang, hingga pasukan elite mereka disiagakan di perbatasan dengan Indonesia.



TNI AU melihat Pangkalan Udara Inggris di Singapura sebagai ancaman. Komando Mandala Siaga (Kolaga) merancang rencana untuk mengebom pangkalan tersebut.



Panglima Komando Operasi Komodor Leo Watimena memimpin briefing di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.



“Pangkalan Udara Militer Tengah Air Force Base dijaga dengan radar dan misil anti serangan udara. Bukan tugas mudah untuk menyerang dan menghancurkannya,” kata Komodor Leo Watimena.



Dia melihat para komandan skadron di depannya. “Siapa di antara kalian yang siap berjibaku menghancurkan tengah ABF?” tanya Leo.







“Saya siap Panglima!” teriak seorang perwira senior.



Tantangan itu dijawab dengan gagah oleh Komandan Skadron I Pembom Taktis Kolonel (Oedara) Pedet Soedarman. Dia merasa perlu mengobarkan semangat anak buahnya dalam konfrontasi melawan Malaysia dan sekutunya.



Pedet Soedarman pilot berpengalaman. Dia kenyang pengalaman menerbangkan pesawat jenis B-25 Mitchel dan B-26 Invander dalam menumpas berbagai penumpasan pemberontakan yang terjadi di tanah air.



Maka saat merencanakan mengebom Tengah ABF, 2 pesawat itu juga yang akan digunakannya. Demikian dikisahkan Pedet Soedarman dalam buku Pengalaman Heroik Penerbang Bomber tahun 2003.



“Direncanakan 50 persen bom yang dijatuhkan dari pesawat itu akan mampu menghancurkan landasan sekaligus mencegah musuh melakukannya,” kata Pedet.



Rencana dan persiapan terus dilakukan. Moril para anggota TNI AU tinggi untuk melaksanakan tugas itu.



Namun angin berubah cepat. Peristiwa G30S mengubah peta politik Indonesia. Presiden Soekarno jatuh dan penggantinya, Presiden Soeharto memutuskan untuk mengakhiri konflik dengan Malaysia.



Dalam waktu singkat pula TNI AU menderita akibat pemerintah Orde Baru memutus semua kerja sama dengan Rusia dan China. Pesawat-pesawat paling canggih milik TNI AU tak bisa terbang gara-gara kekurangan suku cadang. Berakhirlah era Macan Terbang Asia.



Misi mengebom pangkalan jet tempur itu tak pernah digelar.















sumber: Merdeka

Related

Nusantara 3899292341905276732

Follow Us

Populer

Terkini

Terkomentari

Ads

Ads

Media Persatuan

Kami Hadir Sebagai media pemersatu Indonesia dan mampu menginspirasi anak bangsa dengan berlandaskan semangat nasionalisme-kebangsaan.

item