Menelusuri Jejak Karya Monumental Raudhatul Irfan KH Ahmad Sanusi, melalui kegiatan Senyum Ramadhan PUI
Salah satu karya KH Ahmad Sanusi yang banyak dikenal masyarakat Sunda adalah kitab. Raudhah al-‘Irfân fi ma’rifah al-Qur’ân. Kitab itu bi...
http://mediapersatuannews.blogspot.com/2015/06/ini-akibatnya-jika-anda-terlalu-sering.html
Salah satu karya KH Ahmad Sanusi yang banyak dikenal masyarakat Sunda
adalah kitab. Raudhah al-‘Irfân fi ma’rifah al-Qur’ân. Kitab itu bisa
disebut sebagai kitab tafsir Sunda.
Tak banyak orang mengenal KH. Ahmad Sanusi sebagai ahli tafsir dari
Sunda (Jawa Barat). Orang Sunda memanggilnya Ajengan Sanusi, Ajengan
Cantayan, atau Ajengan Genteng. Ulama yang pernah hampir sebelas tahun
meniti ilmu di Tanah Suci ini juga dikenal sebagai pendiri Persatuan
Umat Islam (PUI).
Sekembalinya ke Tanah Air, saat usia remaja, ia lebih banyak terlibat
dalam dunia pendidikan dan menulis 125 buku. Buku karyanya meliputi
berbagai bidang agama yang ditulis dalam bahasa Sunda maupun Indonesia.
Kelak, sosok ulama Sunda ini dipenuhi aktivitas sosial keagamaan, plus
mewariskan karya berharga kebanggaan masyarakat Sunda.
Salah satu karya KH Ahmad Sanusi yang banyak dikenal masyarakat Sunda
adalah kitab //Raudhah al-‘Irfân fi ma’rifah al-Qur’ân//. Kitab itu bisa
disebut sebagai kitab tafsir Sunda. Ia salah satu dari tiga ulama Sunda
yang produktif menelorkan kitab-kitab ajaran Islam. Selain Sanusi ada
pula Raden Ma’mun Nawawi ibn Raden Anwar yang menulis berbagai risalah
singkat, serta ulama penyair terkenal ‘Abdullah bin Nuh dari Bogor yang
banyak menulis tentang ajaran-ajaran sufi.
Martin Van Bruinessen (//Kitab Kuning//, Mizan 1996), sarjana Belanda,
menyebut ketiga tokoh itu sebagai penulis karya orisinil dan bukan
pen//syarah// (penyempurna) atas kitab-kitab tertentu, sebagaimana
umumnya dilakukan para ulama Indonesia abad ke-19. Kitab //Raudhatu
al-‘Irfân fi Ma’rifati al-Qur’ân// bisa dikatakan sebagai //starting
point// di tengah tradisi tulis baca dunia pesantren yang belum cekatan
dalam menelorkan karya tafsir yang utuh.
Banyak pesantren di ranah Parahyangan menggunakan kitab tafsir ini untuk
proses belajar mengajar. Begitu pula pengajian kampung di lingkungan
masyarakat yang dibimbing para alumni pesantren di Jawa Barat. Dan
dengan mudah kita dapat menemukan kitab tafsir ini di toko-toko kitab di
pasar-pasar tradisional. Naik cetaknya juga sudah tak terhitung sejak
diterbitkan oleh banyak penerbit berbeda tanpa tahun penerbitan pertama.
Kitab ini terdiri dari dua jilid. Jilid pertama berisi tafsir juz 1-15
al-Qur’an, dan jilid keduanya berisi tafsir juz 16-30. Kitab ini
memergunakan tulisan Arab dan bacaan Sunda, dilengkapi keterangan di
sisi kiri dan kanan setiap lembar halaman sebagai penjelasan tiap-tiap
ayat yang telah diterjemahkan.
Model penyuguhan ini, bukan saja membedakan kitab tersebut dari tafsir
yang biasa digunakan di pesantren atau masyarakat Sunda umumnya,
melainkan untuk memberi pengaruh pada daya serap para peserta pengajian.
Tulisan ayat yang langsung dilengkapi terjemahan di bawahnya dengan
tulisan miring, sangat membantu pembaca untuk mengingat arti tiap ayat.
Terlebih dengan adanya kesimpulan yang tertera pada sisi kiri dan kanan
setiap halaman.
Keterangan sisi kiri dan kanan ini juga berisi penjelasan tentang waktu
turunnya ayat //(asbâb nuzûl)//, jumlah ayat, serta huruf-hurufnya.
Kemudian, disisipi dengan masalah tauhid yang cenderung beraliran
Asy’ari dan masalah fikih yang bermadzhab Syafi’i. Banyak pendapat
mengatakan, kedua madzhab dalam Islam tersebut memang dianut oleh
kebanyakan masyarakat Muslim di Jawa Barat. Dari sini terlihat bagaimana
KH Ahmad Sanusi memunyai cara tersendiri dalam menyuguhkan ayat-ayat
teologi dan hukum yang erat berkait dengan paham masyarakat umumnya.
Pengertian per kata yang ada dalam tafsir ini tampaknya diilhami oleh
//Tafsîr Jalâlain// karya Jalaluddin al-Suyuthi dan Jalaluddin
al-Mahalli yang banyak digunakan di lingkungan pesantren di Jawa. Ini
terlihat dari awal penafsiran surat al-Fâtihah sampai surat-surat
sesudahnya. Model //tafsîr mufradât// (tafsiran kata per kata) yang
lekat pada //Tafsîr al-Jalâlain// telah banyak memengaruhi KH Ahmad
Sanusi dalam meracik tafsir setiap kata al-Qur’an.
Mungkin ini yang bisa dilakukan dalam menulis tafsir yang memang sengaja
dibuat untuk konsumi kebanyakan masyarakat Muslim Sunda yang belum
memiliki kesadaran sempurna akan teks Kitab Suci. Pada kenyataanya,
pengguna tafsir ini memang terpikat berkat gaya penafsiran tersebut.
Faktor lain yang menyebabkan kitab ini banyak digunakan masyarakat
Muslim Sunda, bisa jadi, adalah ketokohan penulisnya. KH Ahmad Sanusi
dikenal sebagai pendiri organisasi //al-Ittihadiyyatul Islamiyah// yang
bergabung ke dalam Persatuan Ummat Islam (PUI) pada 1952. Ia juga
dikenal sebagai salah seorang pengikut tarekat Qadiriyah yang banyak
dianut masyarakat prakemerdekaan. Bahkan, para pemuda yang berjuang
untuk kemerdekaan, kerap meminta ajaran dan kekebalan kepada Kiai Sanusi
berkaitan dengan terjemahan //Manâqib Abdulqâdir Jailânî// yang
disusunnya, yang kemudian menjadi pedoman tarekat Qadiriyah.
Meski menggunakan tulisan Arab dengan bacaan Sunda, tapi para peserta
pengajian dapat menyerapnya dengan mudah. Padanan kata yang digunakan
pun sesuai dengan kosakata keseharian yang tak menyita waktu maupun
tenaga untuk menyerap isinya. Begitu pula pengalihistilahan arti yang
disesuaikan dengan simbol-simbol makna bahasa Sunda. Seperti mengartikan
kata //dzarrah// dengan biji sawi, yang memang diakui dan dikenal
sebagai benda yang terkecil dalam tradisi bahasa Sunda.
Kitab Tafsir ini merupakan karya monumental seseorang yang bergelut lama
di dunia pesantren. Bacaan atas teks-teks tafsir Arab yang ada di
lingkungannya telah menginspirasi KH Ahmad Sanusi untuk membuat sebuah
karya yang hingga kini masih layak dijadikan contoh oleh para pengkaji
tafsir, khususnya mufasir Sunda.
Melalui kegiatan
Pesantren Ramadhan yang diadakan di Masjid Raudhatul Irfan yang
merupakan Mesjid yang mengingatkan karya monumental Raudhatul Irfan KH
Ahmd Sanusi yang diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat, peserta yang
terdiri dari siswa PUI Sejawa Barat dan DKI berusaha mengingat kembali perjuangan Pendiri PUI di Sukabumi